Mengulik Sudut Pandang Orang Pertama Dalam Cerita

(Ditulis Oleh: Renata Hezekiel)

Sebelum menulis sebuah cerita, biasanya kita akan menentukan pilihan mau menggunakan point of view (POV) atau sudut pandangan orang keberapa. Sudut pandang sendiri menurut KBBI adalah cakupan sudut bidik lensa terhadap gambar atau suatu bacaan. Dari pengertiannya sudah cukup jelas ya, Sobat. 

Kali ini kita akan mengulik salah satu sudut pandang, yaitu sudut pandang orang pertama. Siapa tahu bisa jadi pertimbangan buat kamu yang lagi mau mulai menulis tapi bingung memilih sudut pandang mana yang akan digunakan. Penggunaan sudut pandang orang pertama itu kesannya mudah, ya. Tapi kalau nggak hati-hati kita bisa jadi malah melanggar beberapa ketentuan. Untuk itu, ada hal-hal yang harus kamu tahu nih. 

    1. Penulis Memposisikan Diri Sebagai Tokoh Dalam Cerita

Dalam cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama kamu akan sering menemukan kata ‘aku’. Ini jelas ya, ‘aku’ di sini diposisikan oleh penulis sebagai tokoh utamanya, sementara penulis sebagai narator atau pencerita. Dari sudut pandang ini, pembaca bisa tahu dan memahami secara keseluruhan dari pikiran si tokoh ‘aku’. Bisa juga menjadi sudut pandang orang pertama pheriperal, dimana tokoh ‘aku’ bisa memberikan gambaran tokoh lain atau lingkungan yang ada di sekitarnya. Tapi, bukan berarti bisa membaca pikiran, ya. 

    1. Batasi Tokoh Utama Dalam Sudut Pandang Ini

karena menggunakan sudut pandang orang pertama, maka penulis sangat terbatas dalam mengembangkan emosi maupun mengungkapkan hal-hal lain atau tokoh lain selain tokoh ‘aku’ sendiri. Sebagai contoh nih:

Sudah sejam aku menunggunya di Kalluna, Azhar pun segera memacu motor bebeknya lebih cepat agar tidak membuatku menunggu lebih lama lagi.

Dari kutipan di atas, bisa kita tahu ya ketidaklogisannya ada dimana. Tokoh ‘aku’ berada di dalam Kalluna, bagaimana bisa tahu kalau tokoh Azhar sedang ngebut bawa motor? Jadi, ketika kamu memilih menggunakan sudut pandang orang pertama, pastikan kamu nggak melebihi pengetahuan si tokoh ‘aku’ atau seolah si tokoh ‘aku’ ini bisa membaca pikiran.

Jika kamu ingin menceritakan emosi dari tokoh lain, kamu bisa menggunakan narasi deskriptif yang umum mengandung kata: terlihat, seperti, terdengar, dan kata lain yang bersifat penggambaran dari pandangan tokoh ‘aku’.

    1. Hindari ‘Klise’ dengan Tidak Terlalu Banyak Menggunakan ‘Aku’

Jangan sampai terlalu banyak kata ‘aku’. Ini juga bisa kamu akali dengan pemilihan kata dan penyusunan kalimatnya ya. Kalau kebanyakan ‘aku’, kasihan pembaca nanti bisa mabok bacanya. Selain itu cerita kamu juga jadi membosankan dan tidak nyaman dibaca lho.

Itu tadi hal-hal yang bisa kamu jadikan pertimbangan ketika mengambil sudut pandang untuk tulisanmu. Pastiin kamu menguasainya, ya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *